Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:13:45 WIB

Apakah Lamuri Restoran India Selatan dan Sumatera Pertama di Dunia?

Penulis : admin
Kategori: RAGAM BERITA - Dibaca: 174 kali


** Daun pisang, hidangan untuk dinikmati bersama, dan sejarah Samudra Hindia selama berabad-abad: restoran kedua Chef Aman Lakhiani di Bali ini diyakini sebagai restoran pertama di dunia yang secara khusus menyajikan masakan India Selatan dan Sumatra.


Di Indonesia, dari kota besar hingga kota kecil, rumah makan Padang hampir selalu mudah ditemukan. Masakan Sumatra Barat merupakan salah satu kuliner daerah yang paling luas penyebarannya di Nusantara, dan banyak bahan yang menjadi ciri khasnya juga tak asing di seberang Samudra Hindia, tepatnya di India Selatan. Lamuri, restoran terbaru dari Executive Chef Aman Lakhiani di Jalan Danau Tamblingan, Sanur, menyajikan masakan dari kedua wilayah tersebut secara berdampingan.

Lamuri merupakan restoran kedua Chef Aman di ruas jalan yang sama, setelah Junsei, yakitori-ya miliknya yang berfokus pada teknik panggang arang, serta Tamba by Junsei, ruang teh dan vinyl listening bar pertama di Bali. Jika Junsei lahir dari tahun-tahun yang ia habiskan mempelajari kuliner Jepang sebagai seseorang yang berasal dari luar tradisi tersebut, Lamuri berangkat dari cita rasa yang jauh lebih dekat dengan latar belakangnya sendiri.

* Rasa yang Tak Asing

Chef Aman tumbuh besar di Jakarta dalam keluarga Indonesia dan India Sindhi. Namun, gagasan untuk Lamuri mulai terbentuk di Tamil Nadu, negara bagian di ujung selatan India yang menghadap Sri Lanka dan Teluk Benggala. Dalam perjalanan ziarah keluarga ke sejumlah kuil beberapa tahun lalu, ia berulang kali menemukan kemiripan antara makanan yang ia santap di sana dengan hidangan Padang yang akrab baginya sejak kecil.

Tak lama kemudian, ia kembali ke India Selatan dan menghabiskan beberapa bulan mempelajari masakan Chettinad di The Bangala, sebuah hotel heritage di Karaikudi yang dikenal menjaga tradisi masakan rumahan setempat, sekaligus melakukan perjalanan ke berbagai penjuru wilayah tersebut. Kemiripan itu muncul di mana-mana: santan, kunyit dan jahe, kari yang dimasak perlahan, nasi sebagai bagian utama dari setiap santapan, hingga tradisi menyajikan makanan di atas daun pisang.

* Jalur yang Menghubungkan

Penasaran mengapa kedua tradisi kuliner ini terasa begitu dekat, Chef Aman mulai menelusuri sejarah masyarakat India di Indonesia. Penelusuran tersebut membawanya pada Lamuri, sebuah kerajaan kuno sekaligus pelabuhan perdagangan di ujung utara Sumatra, di wilayah yang kini menjadi Aceh.

Nama Lamuri tercatat dalam prasasti Tamil, catatan perdagangan Tiongkok, serta tulisan para pelancong Arab. Kerajaan ini berada di jalur pelayaran yang menghubungkan Sumatra dengan India Selatan dan Sri Lanka. Di sepanjang jalur tersebut, para pedagang bertukar rempah dan tekstil, sementara gagasan, ritual, serta praktik memasak turut berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya dan berpotensi memengaruhi perkembangan tradisi kuliner Sumatra dari waktu ke waktu. Sebagian kemiripan yang ditemukan Chef Aman mungkin berkaitan dengan sejarah panjang hubungan tersebut, sementara sebagian lainnya dapat berasal dari kondisi tropis yang serupa, dengan kelapa, beras, dan hasil laut yang sama-sama melimpah.

Bagi Chef Aman, perbedaan yang membentuk karakter masing-masing tradisi kuliner sama pentingnya dengan persamaan di antara keduanya. “Saya sangat peduli untuk menyajikan makanan ini tanpa membuatnya terasa seperti fusion,” ujarnya. Sebagian besar hidangan tetap berakar pada tradisi kulinernya masing-masing, sementara beberapa lainnya mengeksplorasi titik temu yang secara alami muncul dari bahan, teknik, dan cita rasa.

* Bersantap di Atas Daun Pisang

Menu Lamuri berkembang dari perjalanan riset ke Tamil Nadu, Pondicherry, dan Sri Lanka. Di sana, tim bersantap di rumah makan yang menyajikan hidangan tanpa menu dan menggiling masala dengan tangan di dapur-dapur rumahan.

Di Lamuri, daun pisang dibentangkan di atas meja sebagai alas makan. Kari disajikan dalam mangkuk terakota, sementara hidangan-hidangan kecil hadir di atas piring baja seperti yang lazim ditemui di rumah makan India Selatan. Banyak hidangan di Lamuri juga paling nikmat disantap langsung dengan tangan. Seperti yang dikatakan Lamuri: makan dengan tanganmu, makan dengan sejarahmu.

Chef Aman tumbuh dengan identitas Indonesia dan India dalam keluarga yang tidak pernah menempatkan salah satunya di atas yang lain. Latar belakang tersebut memiliki keselarasan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, atau persatuan dalam keberagaman: bahwa perbedaan tidak harus dilebur agar dapat hidup berdampingan. Hal ini juga menjadi bagian dari alasan keluarganya memilih Indonesia sebagai rumah mereka.

Di Lamuri, gagasan tersebut diterjemahkan melalui makanan. Kari Tamil dapat tersaji berdampingan dengan gulai Sumatra, dengan karakter masing-masing tetap dipertahankan tanpa harus disesuaikan agar menjadi serupa. “Saya tumbuh di antara dua budaya yang tidak pernah meminta saya untuk memilih,” kata Chef Aman. “Lamuri adalah cara saya membawa keduanya ke meja yang sama, berdampingan, tetapi tidak dicampur.”

Dari India Selatan, Chicken 65, hidangan klasik Chennai, digoreng hingga keemasan dan disajikan dengan daun kari yang garing. Meen Kuzhambu menghadirkan ikan dalam kari asam jawa dengan cita rasa segar dan tajam, sementara saat makan siang, dosa disajikan tipis dan renyah.

Dari Sumatra, Dendeng Balado memadukan irisan dendeng yang garing dengan keripik kentang renyah dan sambal bercita rasa manis pedas. Ayam Tangkap Aceh hadir dengan limpahan daun kari dan pandan yang digoreng hingga garing. Sri Lankan Mutton Rolls, dengan lapisan tepung roti renyah dan isian daging berbumbu, menunjukkan perhatian Chef Aman terhadap tekstur, sesuatu yang ia bangun melalui pelatihannya dalam kuliner Jepang dan terus ia asah di Junsei.

Di antara titik temu kedua tradisi tersebut, Kare Kambing memadukan daging kambing yang dimasak perlahan dengan rempah Sumatra dan India Selatan. Sementara saat makan malam, Fish Pollichathu, ikan bawal putih yang dipanggang dalam balutan daun pisang, menggunakan teknik memasak yang sama-sama dikenal di Indonesia maupun Kerala.

Pilihan untuk vegetarian pun beragam, sebagaimana lazimnya di rumah makan Padang maupun tempat makan di India Selatan. Salah satu yang menonjol adalah Gulai Jengkol, yang mengangkat salah satu bahan yang paling mengundang pro dan kontra di Indonesia: biji beraroma tajam dari tanaman polong asli kawasan ini, yang dimasak perlahan dalam gulai santan khas Sumatra Barat.

“Kita benar-benar harus tahu cara mengolahnya,” kata Chef Aman. “Jadi saya sangat senang bisa mengangkat bahan yang khas Indonesia ini dan menyajikannya dengan cara yang lezat.”

* Ruang untuk Berkumpul

Berbeda dengan Junsei yang didominasi kayu gelap dan pencahayaan temaram, Lamuri hadir dengan warna-warna berani dan cahaya alami. Pilar merah tua menjulang hingga langit-langit kayu yang tinggi, lantai terakota mengingatkan pada tanah merah India Selatan, sementara bangku panjang berwarna indigo membentang di tengah ruangan.

Chef Aman dan istrinya, Kiara, merancang sendiri mosaik pada pilar di Philip Lakeman Ceramic, yang berlokasi tak jauh dari Lamuri di Jalan Danau Poso. “Kami ingin menghadirkan karakter kami sendiri ke dalam ruang ini,” ujarnya.

Panel kayu berukir khas Bali yang merupakan bagian asli bangunan dicat dalam warna hijau, biru, oranye, dan merah muda yang cerah, terinspirasi dari kuil-kuil penuh warna di India Selatan. Hiasan dinding yang dikumpulkan selama perjalanan riset turut mengisi ruangan dengan beragam warna dan tekstur. Dapur terbuka yang luas semakin memperkuat suasana kebersamaan di dalam restoran.

Di meja-meja panjang, keluarga dan sahabat saling berbagi hidangan, mencicipi berbagai rasa, dan menikmati sesuatu yang sudah akrab maupun yang baru. Suasana seperti ini terasa begitu dekat dengan Sanur, tempat makan santai bersama keluarga dan kelompok besar telah lama menjadi bagian dari keseharian.

Bagi Chef Aman, restoran ini “terasa seperti kembali ke akar saya, sekaligus menjadi tahap berikutnya dalam perjalanan saya sebagai seorang chef.”

Lamuri kini buka Selasa hingga Minggu untuk makan siang (11.30–15.30) dan makan malam (17.00–22.30).