Senin, 01 Juli 2024 - 12:55:44 WIB

BPS : Juni 2024 Terjadi Deflasi 0,08 Persen

Penulis : Redaksi
Kategori: EKONOMI DAN BISNIS - Dibaca: 811 kali


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni 2024 terjadi deflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,08%. Sementara itu inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) sebesar 2,51% dan inflasi tahun kalender sebesar 1,07%. Secara bulanan terjadi penurunan indeks harga konsumen dari 106,37 pada Mei 2024 menjadi 106,28 pada Juni 2024. Adapun inflasi bulanan pada Juni 2023 sebesar 0,14%.

“Deflasi Juni 2024 ini lebih dalam dibandingkan Mei 2024 dan merupakan deflasi kedua pada 2024,” ucap Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama BPS Imam Machdi dalam konferensi pers di kantor BPS Jakarta, Senin (1/7/2024).

Jika diperinci, kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi terbesar adalah kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami deflasi 0,49% dan memberikan andil 0,14% ke deflasi pada Juni 2024.

“Komoditas penyumbang utama deflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,09%, tomat dengan andil deflasi 0,07%, serta daging ayam ras dengan andil deflasi 0,05%,” terang Imam.

Secara spasial, tercatat 12 provinsi mengalami inflasi dan 26 provinsi mengalami deflasi. Bila dilihat lebih dalam inflasi tertinggi terjadi Papua Pegunungan (2,11%), sedangkan deflasi terdalam di Papua Selatan (1,11%).

Dalam kelompok pengeluaran ini juga terdapat komoditas yang memberikan andil ke inflasi, yaitu cabai rawit dan cabai merah dengan andil 0,02%. Beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi sebesar 0,01% adalah emas perhiasan, kentang, timun, sigaret kretek mesin, tarif angkutan udara, ikan segar dan kopi bubuk.

Bila dilihat komponen, deflasi sebesar 0,08% didorong harga bergejolak. Komponen tersebut mengalami deflasi 0,98% dan memberikan andil 0,16%. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi komponen ini adalah bawang, merah, tomat, dan daging ayam ras.

Selama Januari-Juni 2024 komoditas dari kelompok harga bergejolak memiliki frekuensi yang lebih sering sebagai komoditas utama penyumbang inflasi. “Komoditas emas perhiasan dan sigaret kretek mesin menjadi komoditas utama penyumbang inflasi dalam 6 bulan berturut-turut (Januari-Juni 2024),” terang Imam.

Sedangkan komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,1% dengan andil sebesar 0,06%. Komoditas yang dominan memberikan andil adalah emas perhiasan dan kopi bubuk. Komponen diatur pemerintah mengalami inflasi 0,12% dengan andil 0,02%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen harga diatur pemerintah adalah sigaret kretek mesin, dan tarif angkutan udara. (B1)