Senin, 20 Mei 2024 - 19:45:21 WIB

Kasus Covid-19 Varian KP.1 dan KP.2 di Singapura Terus Meningkat, Kenali Gejalanya

Penulis : Redaksi
Kategori: METROPOLITAN - Dibaca: 811 kali


Kasus Covid-19 di Singapura kini sedang meningkat karena munculnya varian baru KP.1 dan KP.2. Varian KP.1 dan KP.2 merupakan sekelompok mutan yang dijuluki FLiRT. Keduanya diberi nama berdasarkan huruf yang berasal dari mutasinya. Varian FLiRT adalah keturunan langsung dari JN.1.

Dalam periode 5 hingga 11 Mei 2024, kasus Covid-19 di Singapura naik dua kali lipat menjadi 25.900 kasus. Rata-rata pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit meningkat menjadi 250 orang per hari.

Meski Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan saat ini tidak ada indikator yang menunjukkan varian KP.1 dan KP.2 menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan jenis virus lainnya, tetapi memahami gejalanya lebih awal sangat diperlukan untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar dari penularan virus.

Berikut ini gejala dari Covid-19 varian KP.1 dan KP.2.

1. Demam dan menggigil
Covid-19 varian KP.1 dan KP.2 sering kali menimbulkan demam dan sensasi menggigil pada penderitanya, menyerupai gejala varian sebelumnya.

Demam adalah respons alami tubuh terhadap infeksi dengan tubuh meningkatkan suhu untuk melawan patogen. Sensasi menggigil juga dapat terjadi sebagai respons tubuh terhadap perubahan suhu.

Namun, demam yang disebabkan oleh infeksi virus juga dapat bervariasi dalam intensitasnya, dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti umur dan kesehatan umum individu.

2. Gejala pernapas
Batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas merupakan gejala yang umum pada varian FLiRT, serupa dengan varian sebelumnya seperti JN.1. Batuk adalah respons tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dari lendir, debu, atau benda asing lainnya. Sakit tenggorokan dan kesulitan bernapas dapat disebabkan oleh peradangan pada saluran pernapasan atas dan bawah.

Gejala pernapasan dapat bervariasi dalam tingkat keparahan, mulai dari ringan hingga parah. Pada beberapa kasus, gejala pernapasan yang parah dapat memerlukan perawatan medis intensif, terutama jika terjadi penurunan fungsi paru-paru yang signifikan. Segera mencari bantuan medis jika mengalami kesulitan bernapas atau gejala pernapasan lainnya.

3. Gangguan pencernaan
Varian FLiRT juga dapat menimbulkan gejala pencernaan, seperti sakit perut, diare ringan, dan muntah. Gejala pencernaan ini mungkin kurang umum dibandingkan dengan gejala pernapasan, tetapi tetap perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda infeksi yang serius.

Infeksi virus dapat menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan, menghasilkan gejala seperti sakit perut, diare, dan muntah. Meskipun gejala ini biasanya lebih ringan daripada gejala pernapasan, mereka dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan memengaruhi kualitas hidup penderita.

4. Kehilangan indra penciuman dan pengecapan
Kehilangan rasa atau penciuman baru adalah gejala khas varian KP.1 dan KP.2 yang dapat terjadi pada penderitanya. Indra penciuman dan pengecapan yang normal penting untuk mendeteksi bau dan rasa makanan, serta untuk mendeteksi bau yang tidak biasa atau merusak.

Kehilangan indra penciuman dan pengecapan merupakan gejala yang cukup khas pada infeksi virus, termasuk Covid-19. Meskipun belum sepenuhnya dipahami mengapa hal ini terjadi, kehilangan indra penciuman dan pengecapan sering kali terkait dengan peradangan pada jaringan hidung dan tenggorokan.

5. Otak kabut dan kelelahan
Penderita varian FLiRT sering kali melaporkan gejala, seperti otak kabut dan kelelahan yang berat. Otak kabut atau disorientasi adalah gangguan kognitif yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir dengan jelas dan mengingat informasi.

Gejala neurologis seperti otak kabut dapat terjadi pada beberapa penderita Covid-19, terutama pada kasus yang lebih parah. Kelelahan yang berat juga sering kali terjadi selama infeksi virus, karena tubuh berjuang untuk melawan patogen dan memulihkan diri dari penyakit. (B1)