Sabtu, 11 November 2023 - 00:56:59 WIB

Populix: Generasi Muda Kelompok Suku Tertentu Memilih Calon Presiden dengan Pengalaman Militer

Penulis : Redaksi
Kategori: POLITIK DAN HUKUM - Dibaca: 847 kali


Identitas etnis dan budaya memiliki dampak signifikan dalam membentuk kecenderungan politik serta tindakan pemilih. Kecenderungan itu terlihat pada pemilih muda. Riset yang dilakukan Populix menunjukkan individu yang berasal dari latar belakang etnis tertentu mungkin cenderung mendukung figur pemimpin yang memiliki pengalaman militer, karena dianggap memiliki sifat yang tegas dan berwibawa.

“Studi kami mengungkap bahwa status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, serta suku dan budaya turut berkontribusi dalam membentuk pertimbangan masyarakat dalam mendukung tokoh tertentu. Lanskap politik Indonesia dibentuk oleh perbedaan ekonomi, pendidikan, dan generasi, menciptakan peta perpolitikan yang kaya dan unik. Tingkat ekonomi memengaruhi preferensi antara pertumbuhan bisnis dan redistribusi pendapatan, sementara pendidikan dan generasi memainkan peran dalam keterlibatan politik dan prioritas kebijakan. Faktor etnisitas dan ras memberikan dimensi tambahan, menciptakan gambaran dinamis dari beragam nilai dan aspirasi dalam demokrasi,” ujar Vivi Zabkie, Head of Social Research Populix.

Kecenderungan atau preferensi pemilih, terutama usia muda ini merupakan salah satu temuan dalam riset Populix yang berjudul “Expectations of Young Voters in the 2024 Indonesian Presidential Election” akan dipublikasikan secara bertahap oleh Populix untuk melengkapi sejumlah studi lain dalam menyambut pesta demokrasi 2024. Kajian ekspektasi pemilih muda memadukan riset kuantitatif dan kualitatif. Riset kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap 1.000 responden Gen Millennial dan Gen Z. Kajian dilengkapi dengan studi kualitatif yang dilakukan melalui FGD bersama dengan 16 partisipan.

Hasil survei ini mengungkap lima karakteristik utama yang menjadi pertimbangan anak muda dalam memilih tokoh-tokoh masyarakat dan pemimpin pada pemilu 2024, yaitu memiliki jiwa kepemimpinan (82%), memiliki visi dan kebijakan yang jelas (76%), intelektual dan cerdas (76%), terampil memecahkan masalah (72%), dan berintegritas (69%).

• Status Sosial-Ekonomi

Pemilih yang memiliki pendapatan yang tinggi cenderung memprioritaskan isu-isu ekonomi, seperti pertumbuhan bisnis, investasi, dan pengurangan regulasi, sebagai fokus utama dalam agenda politik mereka. Sebaliknya, individu dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah cenderung memberikan dukungan kepada partai atau kandidat yang mendorong kebijakan untuk redistribusi pendapatan, melaksanakan program kesejahteraan sosial, dan mempromosikan kesetaraan ekonomi. Masyarakat melihat bahwa upaya-upaya semacam ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan mengurangi kesenjangan pendapatan.

• Tingkat Pendidikan

Individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih aktif dalam dunia politik. Mereka memilih untuk bergabung dalam organisasi politik dan terlibat dalam diskusi politik. Tingkat partisipasi yang lebih tinggi ini memberikan mereka pengaruh yang lebih besar dalam pembentukan kebijakan dan memungkinkan mereka untuk membuat keputusan pemilihan yang lebih terinformasi. Pendidikan memberikan keterampilan berpikir kritis, memperluas akses terhadap informasi, dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu-isu sosial. Semua faktor ini berkontribusi dalam mempengaruhi keputusan mereka dalam pemilu dan preferensi mereka terhadap kebijakan yang dicanangkan oleh para kandidat.