Rabu, 14 April 2021 - 21:31:02 WIB

Poni Dwi Setiadi : Keimanan Tidak Diukur dengan Fashion

Penulis : Redaksi
Kategori: PROFILE / OPINI - Dibaca: 608 kali


Menanggapi perihal munculnya pemikiran dakwah bahwa hijab hanya diperuntukan bagi kaum perempuan cantik, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Poni Dwi Setiadi justru menanyakan dasar pernyataan itu, terutama dalam definisi kata "cantik". Menurut Poni, dakwah bisa dilakukan dengan cara persuasif tanpa harus memberikan stigma negatif terhadap pihak/kelompok lain. Menanggapi sesuatu yang kontroversial atau menyinggung pihak lain, dalam pemahaman agama Islam, jika tidak masuk dalam konsep tawasuth (moderasi/netral), ta addud (satu), dan tasamuf (saling menghargai), maka kritik dapat dilakukan. Perbedaan janganlah dijadikan alasan atau dalih untuk menyalahkan pihak lain. Menurut Poni, Nahdatul Ulama (NU) bukan mashaf atau agama melainkan organisasi masyarakat (ormas), tetapi dasar pijakan perjuangan dan dakwah NU ini menyesuaikan dengan keislaman keIndonesiaan dan kebangsaan. Karena itu berbicara masalah hijab/jilbab kembali lagi kepada orang yang memakainya.

"Kita tidak bisa memaksakan apakah hijab hanya untuk perempuan yang cantik atau sebagainya. Itu bukan jaminan. Orang berhijab bukan berarti bisa diidentifikasi bahwa orang ini sudah cantik secara ahlaknya. sebab ada kesalehan sosial dimana beragama atau keimanan seseorang tidak diukur dari fashion", jelas Poni di Jakarta, Selasa (14/04/2021).

Untuk mencegah kesalahpahaman dalam proses hijrah, terutama dikalangan millennial, Poni juga mengingatkan agar kaum millenial , khususnya yang memiliki niat untuk berhijrah (mempelajari Islam dengan tujuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik) untuk lebih berhati-hati dan waspada agar tidak terjebak kedalam organisasi terlarang semacam HTI atau kelompok jaringan teroris. Jika dakwah dari seorang ulama mengandung kontroversi di masyarakat, menurutnya lebih baik memilih ulama lain yang lebih kredibel. Jangan sampai niat mengikuti sebuah majelis untuk mencari ilmu dan mencari ketenangan hati, justru hilang lantaran begitu keluar dari majelis marah-marah bahkan mencibir orang lain. Hal ini tentu akan menghilangkan hakikat beragama.

Mahasiswa sebagai agent of chance harus mampu membaca upaya brain wash yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu kepada kalangan millennial yang tengah berhijrah. Langkah counter yang dilakukan perlu dilakukan dengan cara indoktrinasi, tidak hanya sebatas simbol, tapi juga pendekatan persuasif. Fenomena hijrah harus disesuaikan dengan pemahaman keislaman, tidak semata-mata dengan merubah penampilan, seperti berjenggot atau celana cingkrang, bahkan belajar merakit bom. Tetapi merubah diri dari yang semula ibadahnya kurang bagus menjadi lebih bagus.

“Di agama atau budaya manapun, bahkan Amerika yang dikatakan demokrasinya sudah maju menolak terorisme dan radikalisme. Penjajahan secara fisik sekarang ini bukan lagi jamannya. Dan menjadi tanggungjawab kita bersama untuk mencegahnya”, ujar Poni Dwi Setiadi yang juga merupakan Ketua PMII Cabang Jakarta Pusat.

Sekilas tentang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi mahasiswa Nahdliyin yang lahir untuk mewujudkan adanya keseimbangan sosial dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dipenuhi dengan rasa tanggung jawab yang besar pula, karena sesungguhnya gelar mahasiswa adalah tantangan untuk mewujudkan suatu kehidupan yang lebih baik untuk orang-orang disekitarnya. PMII lahir melalui musyawarah mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) tepatnya dikota surabaya pada tanggal 17 april 1960/21 syawal 1397 H.

Sejumlah pernyataan kontroversial muncul diberbagai media massa maupun media sosial pada akhir tahun 2020 oleh salahsatu pendakwah berdarah Tionghoa (Ustad FS), hingga kini hal-hal kontroversial itu masih menjadi perdebatan dikalangan publik. Seperti yang dikutip oleh suara.com diantaranya perihal statement FS yang mengatakan bahwa berhijab bagi yang cantik saja lewat akun Twitter-nya @felixsiauw, ia sempat berkicau menanggapi soal pernyataan istri Gus Dur Sinta Nuriyah yang menyebut hijab tak wajib bagi perempuan muslim. Felix Siau lalu menulis bahwa hijab itu memang hanya untuk yang berparas cantik. "Berhijab itu memang hanya buat yang cantik-cantik aja kok," tulisnya. Unggahannya itupun memancing reaksi dari netizen. FS juga menyinggung soal fenomena "fanboy iblis zaman now". Tak jelas apa dan siapa yang ia maksud, namun dalam cuitannya ia menyebut fanboy iblis adalah mereka yang merasa paling benar. "Narasi iblis: "Aku lebih baik darinya, aku dari api, dia dari tanah". Narasi fanboy-nya iblis zaman now: "Kami lebih baik dari mereka, yang bener cuma kami, selain kami nggak nasionalis, nggak Indonesia, nggak pancasila, nggak Islami, nggak ngerti Al-Quran". Kalah si iblis," tulis @felixsiauw via Twitter. Politisi muda Dedek Prayudi alias Uki melayangkan kritik tajam kepada Ustaz Felix Siauw tersebut. Ia memperingatkan bagaimana Ustaz Felix Siauw menyebut orang lain sebagai musuh Islam apabila orang itu berseberangan atau tidak sependapat dengan dirinya. "Dulu narasi Anda adalah barisan paling Islam & kalau tidak sebarisan dengan Anda, maka musuh Islam," kata Uki.

Sempat pula viral sebuah tayangan video narasi FS yang menceritakan tetang hasil penelitian UIN Syarief HIdayatullah dimana dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa nama ustad FS adalah orang paling radikal nomor dua di Indonesia setelah Habib Rizik Sihab (HRS). Dalam video itu, FS menilai hasil penelitian sama persis denganpernyataan Menteri Agama dengan sebutan bahwa sosok tersebut memiliki pola yang simple, good looking, sering keluar masuk masjid, menjadi hafiz dan pengurus masjid. Lalu FS menuding ujung dari semuanya itu adalah pergantian pengurus masjid yang didatangkan dari pihak pemerintah. Hal ini oleh FS dianggap merupakan keinginan Pemerintah dan mirip dengan yang diterapkan di China, dimana setiap masjid dikuasai oleh partai pemerintah sehingga bisa menyegel dan menentukan bacaan yang diperbolehkan didalam masjid. Kesamaan itu menimbulkan dugaan tersendiri bagi Ustad Felix. “Di China itu setiap masjid dikuasai oleh partai pemerintah. Sempat dikuasai oleh PKC, dikuasai oleh Pemerintah. Maka pemerintah bisa menyegel, pemerintah bisa ngasih tahu apa yang boleh dibaca dan ga boleh dibaca. Maka di China yang namanya menguasai sampai ke masjid. Kok sama, ya? Jangan-jangan, ya jangan-jangan”, ujar Ustad Felix dalam sebuah rekaman video yang viral beberapa waktu lalu tersebut.