Selasa, 15 Mei 2018 - 19:24:13 WIB

Pelajaran dari Bom Surabaya, Pemerintah Siapkan Progran Deradikalisasi Usia Dini

Penulis : Redaksi
Kategori: POLITIK DAN HUKUM - Dibaca: 207 kali


Belajar dari aksi terorisme "Bom Surabaya" yang melibatkan keluarga (ayah, ibu, anak) sebagai pelaku teroris, pemerintah memandang sudah waktunya untuk melakukan program deradikalisasi sejak usia dini.

“Sejak SD, karena paham ini ternyata juga masuk dari anak-anak tingkat SD", kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung di Jakarta, Selasa (15/5).

Aksi terorisme di Surabaya, menurut Seskab, menegaskan bahwa terorisme bisa datang dari siapa saja. Bukan lagi orang miskin, tidak berpendidikan, tapi juga orang kelas menengah, orang kaya dan berpendidikan.

“Maka sekali lagi, ancaman terorisme bisa datang dari mana saja, dan ini harus menjadi kewaspadaan kita", ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian dalam keterangan pers di Surabaya, Senin (14/5) menyampaikan, bahwa dalam serangan bom bunuh diri yang terjadi di 3 (tiga) gereja di Surabaya, Rusunawa Sidoarjo, dan Kantor Polres Surabaya, pelaku melibatkan istri dan anak-anaknya.

Untuk 3 (tiga) gereja di Surabaya, pelaku berasal dari 1 (satu) keluarga, yaitu Dita Supriyanto (ayah) di Gereja Pantekosta Surabaya, Puji Kuswati (ibu) dengan FS dan FR (anak) di GKI Diponegoro, dan Yusuf Fadil dan FH (anak) di Gereja Santa Maria Tak Bercela.

Sedang bom di Rusunawa Sidoarjo melibatkan Anton Ferdiantono (ayah), Puspita Sari (Ibu), dan HAR, AR, FP, dan GHA (anak).

Bom di kantor Polres Surabaya melibatkan Tri Murtiono (ayah), Tri Ermawati (ibu), AAP, MDS, dan MDAM (anak). (set)