Jumat, 06 April 2018 - 02:27:01 WIB

27 Desainer Indonesia Tampilkan Karyanya di Salone del Mobile 2018

Penulis : Redaksi
Kategori: EKONOMI DAN BISNIS - Dibaca: 249 kali


Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekersama dengan Himpunan Desainer Mebel Indonesia (HDMI) akan berpartisipasi dalam pameran desain paling peting dunia, Salone del Mobile pada tanggal 17-22 April 2018. Paviliun Indonesia di RHO, Hall 14 Stand F 30, Fairgrounds, Milan. Sama seperti tahun lalu, paviliun Indonesia bertajuk “IDentities” dengan tema Global Creative Resources.

Salone del Mobile ini tahun ini merupakan penyelenggaraannya yang ke-57, diikuti oleh lebih dari 2.000 eksibitor dari seluruh dunia. Pameran ini terbagi dalam lima kategori; Pemeran furnitur dan aksesoris, pameran dapur dan perlengkapan dapur, pameran kamar mandi, SaloneSatellite yang memamerkan karya desainer muda berbakat, dan Workplace 3.0 yang memamerkan desain untuk area kerja. Indonesia sendiri yang mengusung tema IDentities akan menempati Hall 14 area International Furnishing Accessories Exhibition atau area pameran furnitur dan aksesoris.

Kehadiran 27 desainer Indonesia di pameran desain paling bergengsi di dunia, Salone del Mobile 2018 ini menjadi pembuktian keseriusan Bekraf dalam mendukung industri kreatif di Indonesia, kali ini untuk pertama kali Indonesia akan menempati paviliun di area utama Salone del Mobile di Rho Fierra, Milan.

“Indonesia adalah salah satu negara yang penuh dengan sumber daya alam yang bisa menjadi sumber menghasilkan karya kreatif. Tak hanya bagi desainer Indonesia tetapi inspirasi bagi masyarakat dunia,” kata Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak menjelaskan tentang tema paviliun Indonesia. Sedangkan “IDentities” artinya banyak, plural, terdiri dari berbagai identitas, keberagaman manusia. Keragaman material dan budaya yang direpresentasikan dalam karya dan produk inilah yang ditawarkan oleh Indonesia kepada dunia.

Selain itu, Bambang Kartono, Ketua HDMI menjelaskan bahwa kita punya sejarah panjang tentang mebel Indonesia. “Bahkan kalau melihat furnitur masa lalu, di Barat muncul era Renaisans, di kita, saat itu masih Hindia, mebel-mebel serupa sudah ada,” terangnya. Usia craftsmanship di Indonesia pun sudah sangat lama yang bisa menjadi sumber inspirasi para desainer Indonesia dan masyarakat dunia.

Sejumlah 27 peserta dari berbagai kota, terdiri dari 14 peserta kategori talenta kreatif dan 13 kategori industri mengisi paviliun tersebut. 27 peserta tersebut telah berhasil melewati tiga tahapan kurasi yang diadakan di Jakarta. Tahap awal dimulai dengan open call yang dimulai pada 9 Desember 2017-15 Januari 2018 dengan jumlah pendaftar sebanyak 119 peserta terdiri dari 92 pendaftar kategori talenta kreatif dan 27 pendaftar kategori industri.

Rangkaian seleksi berakhir dengan terpilihnya 27 peserta yang telah dinyatakan lolos oleh kurator. Dua puluh tujuh peserta akan mengisi paviliun Indonesia dalam pameran Salone del Mobile 2018. Perbaikan dan modifikasi masih dibutuhkan sesuai dengan arahan kurator yang telah berpengalaman dalam hal desain dan analisis pasar. Produk yang diberangkatkan kali ini lebih bervariasi mulai dari rotan, kayu, serat alam dan keramik yang dikemas dengan desain modern dan keahlian craftsmanship.

Tak kalah menarik adalah kisah masing-masing produk. Beberapa desainer menampilkan karya berbahan rotan. Materi yang banyak di Indonesia dan relatif lebih ramah lingkungan sebab tak perlu menebang hutan menjadi konsen tahun ini. Materi yang kesannya kuno ditampilkan dengan sentuhan modern. Selain itu, tema-tema yang diangkat selain terinspirasi dari budaya juga kepedulian para desainer terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan sosial.

Untuk merealisasikan ide menjadi produk, para desainer bekerjasama dengan perajin lokal untuk merealisasikan desainnya, tidak kerja sendirian. Pada skala industri, kehadiran desainer ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi para perajin yang sebetulnya masing-masing punya keahlian kerajinan tangan. Polesan para desainer menjadikan produk akhir sebagai sebuah karya dengan desain yang dikehendaki pasar global dan kualitas pekerjaan standar internasional. Demikianlah, pameran ini tak hanya menjual produk, juga mengabarkan pada dunia tentang ragam potensi Indonesia. Tujuan akhirnya, selain branding juga harapannya ada order sehingga produk Indonesia, baik barang dan jasa mampu mengisi pasar dunia.