Minggu, 14 Februari 2021 - 19:11:53 WIB

"Apa Perlu Bercinta Biar Cinta?"

Penulis : Redaksi
Kategori: RAGAM BERITA - Dibaca: 405 kali


Anak muda merupakan salah satu generasi yang berisiko tinggi dan rentan terhadap infeksi menular seksual serta kehamilan tidak direncanakan. Survey yang dilakukan oleh DKT Indonesia pada tahun 2019 yang melibatkan 500 responden anak muda berusia 15 – 24 tahun di tujuh kota besar Indonesia mengungkapkan bahwa 70% dari mereka sudah pernah melakukan kontak fisik mulai dari berpegangan tangan dan berpelukan, hingga 19% dari mereka mengaku pernah melakukan hubungan seksual . Melihat fenomena tersebut, Fiesta Condoms selaku brand kesehatan reproduksi terdepan di Indonesia berkolaborasi dengan Berani Berencana menyelenggarakan webinar dengan tema “Apa Perlu Bercinta, Biar Cinta?”.

Brand Manager Fiesta Condoms, David Dwi Santoso mengungkapkan “Webinar ini bertujuan untuk mengedukasi anak muda Indonesia mengenai pentingnya consent atau persetujuan dalam sebuah hubungan percintaan serta pentingnya perilaku hidup sehat. Bicara masalah romance, gen z punya keunikan tersendiri dibandingkan dengan generasi lainnya. Akan tetapi, masih banyak anak muda Indonesia yang belum mengerti pentingnya kesehatan reproduksi dalam sebuah relationship serta belum bisa membedakan antara cinta dan nafsu sehingga beberapa dari mereka seringkali terjebak dalam hubungan yang toxic. Untuk itu, kami ingin memberikan insight guna mengatasi problema relationship bagi kaum gen z”.

Zoya Amirin, M.Psi., FIAS. selaku Clinical Sexologist yang menjadi narasumber dalam webinar ini menjelaskan “Ketika jatuh cinta, ada tiga komponen yang bermain serta menggambarkan berbagai aspek cinta yang berbeda yang disebut oleh Robert J Sternberg sebagai The Triangular Theory of Love, antara lain intimacy: perasaan kedekatan, keterhubungan, dan keterikatan dalam hubungan cinta termasuk di dalamnya perasaan yang menimbulkan pengalaman kehangatan dalam hubungan cinta; passion: gairah mengacu pada dorongan yang mengarah pada romansa, ketertarikan fisik, penyempurnaan seksual, dan fenomena terkait dalam hubungan cinta; serta commitment: dalam jangka pendek menyangkut keputusan bahwa seseorang mencintai satu sama lain, dan dalam jangka panjang, merupakan bentuk komitmen seseorang untuk mempertahankan cinta itu”.

“Idealnya, cinta yang sehat memiliki tiga komponen tersebut. Tiga komponen cinta berinteraksi satu sama lain: Misalnya, keintiman yang lebih besar dapat menyebabkan gairah atau komitmen yang lebih besar, seperti halnya komitmen yang lebih besar dapat mengarah pada keintiman yang lebih besar, atau dengan kemungkinan yang lebih kecil, gairah yang lebih besar”, papar Zoya Amirin menambahkan.

Zola Yoana, Certified Matchmaker & Relationship Science-Based Coach dalam webinar Fiesta Condoms menjelaskan, cinta adalah perasaan kuat antara attachment, affection, dan desire. Namun terkadang seringkali kita susah membedakan nafsu dan cinta. Ketika seseorang jatuh cinta pasti selalu ada desire dan dorongan seksual dengan sesama pasangan.

"Namun ketika menjalin hubungan yang sudah didominasi dengan perasaan seksual, biasanya akan lebih cenderung untuk memprioritaskan keinginan untuk seksual”, ujarnya.

“Untuk itu, sebaiknya apabila kamu mulai menjalin hubungan, lebih baik pertama kenali orangnya secara lebih dekat, dimulai dengan cari tahu life value dan kesamaan visi misi kehidupan kamu sejalan atau tidak, baru pengenalan tentang seksual compabitility terakhir”, Zola menambahkan.

Pada saat bercinta dan jatuh cinta, hormon yang bekerja dalam tubuh didominasi oxytocin, vasopressin dan juga dopamine. Hormon tersebut membuat kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta dan juga hasrat di dalam diri. Jadi yang bisa dikontrol adalah bagaimana reaksi/action yang harus dilakukan ketika jatuh cinta.

“Poin pentingnya adalah bahwa apapun tindakan yang dilakukan, kamu harus melakukannya karena pilihan, tindakan yang kamu buat sendiri dengan kesadaran penuh akan konsekuensinya. Dengan cara ini, kamu akan lebih mampu membangun tanggung jawab pribadi. Dan jangan pernah melakukan hubungan seksual sebelum siap secara emosi atau fisik. Kalaupun memang memutuskan untuk sexually active, selalu praktekkan safe sex ketika melakukan hubungan seksual dengan menggunakan kondom sebagai satu-satunya kontrasepsi yang juga melindungi kamu dari infeksi menular seksual”, pesan Zoya Amirin.

“Dengan adanya webinar ini, kita ingin menginspirasi generasi muda bahwa ternyata cinta tidak perlu dibuktikan dengan bercinta. Selain itu, merupakan hak dan tanggung jawab dari masing-masing pihak untuk menjaga kesehatan seksual reproduksi dengan memilih perilaku seks aman dan sehat dimana salah satunya dengan penggunaan kondom”, ujar Brand Manager Fiesta Condoms menutup.