Sabtu, 14 Desember 2019 - 01:48:45 WIB

Transfer Teknologi, BRSDM Rilis Budidaya Ikan Cupang Alam

Penulis : Redaksi
Kategori: RAGAM BERITA - Dibaca: 809 kali


“Indonesia dikenal sebagai sumber ikan cupang alam terbesar di dunia. Namun demikian, ikan cupang alam masih belum mendapatkan perhatian yang layak dari para penggemar domestik, padahal permintaan  ikan cupang alam dari luar negeri  cukup tinggi".

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Maman Hermawan dalam acara rilis Teknologi Budidaya Ikan Hias Cupang Alam (Betta Channoides) Endemik Kalimantan Timur, di UPTD Balai Benih Ikan Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok. Teknologi tersebut merupakan hasil kerjasama antara Unit Pelaksana Tugas (UPT) BRSDM, yakni Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Depok.

Disampaikan bahwa ikan Betta channoides  merupakan salah satu ikan cupang alam yang memiliki bentuk kepala seperti ular dan memiliki kemiripan dengan kepala ikan gabus (Channa sp.), dan merupakan ikan endemik Kalimantan Timur. Ikan ini merupakan salah satu cupang alam yang cukup populer karena warnanya yang cukup menarik. Jantan berwarna merah kecoklatan dengan adanya garis putih disiripnya, sementara betinanya berwarna lebih pucat. Ikan cupang dewasa dari jenis ini memiliki ukuran paling panjang 5 cm.

“BRBIH telah berhasil mengembangkan ikan ini dan telah dipelajari cara budidayanya agar bisa berkembang dan lestari. Keberhasilan ini tentunya sangat bermanfaat untuk disebarkan ke masyarakat khususnya di wilayah Depok bahkan di berbagai daerah. Oleh karena itu, teman-teman peneliti BRBIH berupaya agar pengetahuan dan teknologi yang telah dikuasai dapat ditransfer ke stakeholder. Keberhasilan ini tentunya juga sangat bermanfaat untuk dapat disebarkan ke masyarakat khususnya di wilayah Depok bahkan di berbagai daerah", tutur Maman Hermawan.

Pihaknya pun berharap, Desa Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari, ini dapat menjadi Inkubator bisnis ikan hias serta menjadi program percontohan pelatihan masyarakat dalam membudidayakan ikan hias.

Dalam laporannya, Kepala BRBIH, Idil Ardi, menerangkan bahwa kegiatan uji coba budidaya  ini dimulai pada bulan Mei-November 2019 dengan menyerahkan 30 pasang induk dan perlengkapan budidaya kepada 3 pembudidaya, yaitu Jaenudin, Jumono dan Albert yang berada di bawah bimbingan Balai Benih Ikan Kota Depok.

Sejak awal hingga akhir pelaksanaan kegiatan, para pembudidaya pun mendapatkan bimbingan tentang teknik budidaya ikan Betta channoides oleh peneliti BRBIH. Dengan bermodalkan benih sebanyak 30 pasang, tiga pembudidaya tersebut telah menghasilkan sebanyak 268 larva per November 2019 dan terus bertambah hingga hari ini. 

“Hal tersebut membuktikan bahwa para pembudidaya telah berhasil mengadaptasikan teknologi budidaya ikan hias cupang alam ini dan telah menghasilkan larva dan benih,” tutur Idil.

Ikan cupang alam (Betta channoides) merupakan kategori ikan mouth breeder, yaitu ikan yang telurnya dierami secara alami di mulut hingga menetas dan menjadi larva selama kurang lebih 10 – 15 hari. Namun dalam proses budidaya, larva akan dikeluarkan dari mulut induk jantan dengan cara pengocokan pada hari 6 - 8 pengeraman.

Meskipun tidak alami, jumlah larva lebih banyak dan sintasan larva dapat bertahan hingga 80%. Jika dibiarkan hingga 15 hari, meskipun sintasannya lebih tinggi, namun jumlah larva yang dihasilkan lebih sedikit. Dan jika dikalkulasikan, dengan intervensi memang jauh lebih tinggi hasilnya dibanding secara alami.

Hal-hal sederhana seperti inilah yang coba dijelaskan secara ilmiah dalam riset yang kami lakukan. Nampaknya simple, namun butuh ketelatenan, kesabaran dan keuletan dalam melaksanakan riset agar didapatkan hasil serta data yang valid dan kredibel.